Pengalaman pertama selalu membekas


Tepat seminggu yang lalu saat aku memikirkan kata orang tentang jatuh cinta, tentang bayangannya yang hari ini menghantui pikiranku. Tiba-tiba terdengar bunyi rantai keras yang diketukkan ke pagar depan kosanku. Hari minggu harusnya klinik bersalin libur, dan bidan yang menjaga klinik 24 jam sedang libur dan pergi entah kemana. Jujur sebenarnya aku males mau bukain pintu karena lagi gak pake jilbab dan lagi bersantai ria sambil menonton bola sudirman cup di Net TV antara Persela vs persib. Tapi karena ada suara-suara panik seorang ibu dan ketukan pagar besi yang semakin keras dan semakin terlihat terburu-buru akhirnya aku memutuskan untuk keluar juga dengan memakai rok garis hitam putih dan kaos panjangku yang berwarna pink. Turun menyusuri tangga kemudian membuka pintu samping, aku melihat ibu yang sedang membopong seorang wanita. Rencananya aku hanya ingin memberitahukan kepada tamu tersebut bahwa rumah mak tuo, bidan kliniknya ada di gang pertama dekat pertigaan yang biasanya digunakan oleh angkot 26 arah kampung melayu mangkal. Baru saja nyampek depan pagar dan siap membukakan grendel pintu pagar sembari akan mengatakan “bu, rumah bidannya ada disa…..” dengan wajah panik ibu itu mendesak “gimana nih mbak bayinya sudah mau keluar…..”. Aku lupa posisi ibu tersebut saat itu gimana, yang jelas saat aku melihat ada cairan yang mengalir di bawah pagar besi itu aku juga mulai panik. “Ya allah….” aku dan ibu itu sama-sama berteriak. Alhamdulillah aku bisa membuka pintu pagar itu dengan cepat meskipun dengan kepanikan yang ditimbulkan ibu berjilbab itu dan aku sendiri tentunya.

Pagar akhirnya dibuka lebar dibantu oleh laki-laki yang datang bersama mereka, entah itu suaminya atau bukan. Rasanya sih bukan karena kurang responsive si Mas nya itu tadi, loh kok jadi salah fokus yaa… Nah saat itu lah aku dikejutkan oleh kepala bayi dengan yang muncul dari daster si Mbak yang dipegangin oleh ibu nya yang berjilbab tadi. Entah aku harus berekspesi seperti apa. “Ya Rabb….” teriakku. Dalam batinku aku bertanya “aku harus bagaimana ini”. Untunglah si ibu yang berjilbab tadi dengan cekatan mengambil kepala bayi tersebut dan menyuruh si Mbak nya untuk duduk. Bayi mungil yang masih berlumuran air ketuban dan tersambung dengan ari – ari ibunya itu hanya diam saja. Dalam suasana panik karena suara ibu berjilbab itu tak henti-hentinya mengatakan “ini harus gimna Mbak….?”. Aku sebenarnya juga ingin menjerit dan bilang “aku juga gak tahu buuuu…aku hanya anak kos dan bukan bidan penjaganyaaaa….”. Tapi aku gak ingin membuat sang Ibu dan si Mbak nya semakin panik, akhirnya aku punya ide untuk memanggil mak tuo kerumahnya. Sebelum lari, aku bilang pe penjual selondok yang disana untuk membantu mereka untuk mengangkat mbak dan si mungil masuk ke dalam.

Berlari tanpa memperdulikan apa pun aku menuju rumah mak tuo yang jaraknya sebenarnya hanya beberapa ratus meter dari kosan yang juga klinik bersalin tempat tinggalku sekarang. Didepan pagar ada seorang wanita berjilbab yang menunggu didepan pagar dirumah mak tuo. Dengan suara panik, “Mak tuo ada….?” Seruku. Sambil menunjuk kedalam pagar rumah itu, “iya ini ibu yusra nya masih didalam…” Kata wanita itu. “Mak tuo, bayinya udah keluar..” Kataku setengah berteriak “cepeet…”. Sontak kepanikan juga terjadi dirumah mak tuo. Mak tuo keluar bersama anaknya yang dulu pernah jadi duta pariwisata dalam ajang putri Indonesia  tanpa  memakai jilbab. Akhirnya mak tuo masuk lagi kedalam rumah dan si wanita yang tadi nunggu di luar itu berlari kearah klinik sambil menyebut nama allah. Baru saat itu aku sadar mungkin wanita tadi keluarga si Mbak yang melahirkan didepan kosanku itu.

Mak tuo ternyata sedikit agak lama, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke klinik dan melihat kondisi disana. Ternyata Mbak Dan si mungil itu masih berada didepan pagar masih dengan posisi yang sama saat aku tinggal tadi. Akhirnya aku berinisiatif untuk membukakan pintu klinik. Dengan tergesa-gesa aku berlari melewati ruang TV di lantai dua dan turun lagi melewati tangga belakang untuk sampai ke kamar-kamar pasien. Deg, gak ada kunci yang tergantung disitu. Aku mulai panik, lebih panik lagi…

Untungnya pikiranku masih bisa diajak berfikir jernih, aku mencoba membuka pintu kamar yang biasanya sering digunakan oleh bidan untuk melahirkan, dan terbuka…”alhamdulillah” batin ku…Setelah ruangan klinik berhasil aku buka, aku lihat Mbak nya telah dibopong oleh 3 cowok dan ibunya yang membawa si Mungil. Tak lama kemudian Mak tuo datang sambil berseru “Astaghfirullah..”. Detak jantungku mulai melambat sesaat setelah melihat mak tuo ada disana. Setidaknya ada bidan yang biasa menangani orang yang melahirkan. Dan sayup-sayup terdengar suara bayi menangis. Alhamdulillah si mungil itu menangis juga…si mungil yang belakangan aku tahu kalau berjenis kelamin laki-laki. Si mungil yang akan punya sejarah yang unik karena terlahir di depan pagar klinik bersalin. Si mungil yang akan jadi pemberani dan kuat kelak karena cara lahirnya yang tak biasa. Semoga kelak jadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat untuk duniamu. Aamiin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *