Menunggu tanpa batas..


  
Menghabiskan waktu disudut kota bekasi. Entah apa yang sebenarnya aku cari. Melihat kendaraan hilir mudik diperempatan tersibuk di jantung kota ini sebenarnya tidak membuat ku tenteram sedikit pun setelah teringat nyamannya rasa yang pernah Mr. Q buat dalam hidupku. Belum ada yang bisa menggantikan tempat kosong yang dia tinggalkan dislot hatiku. Terkadang merasa yakin, Allah akan mendatangkan seseorang yang akan mengisi kekosongan itu dan menjadikannya yang terakhir untuk ku sebelum menemui Nya. Tapi Tiba-tiba hari ini keyakinan itu memudar. Sesaat aku berfikir untuk menyerah saja dan membiarkan umi atau saudara-saudaraku yang memilihkan pasangan hidup ku tanpa merasakan perasaan apa-apa. Setidaknya itu yang mereka inginkan dan membuat mereka bahagia. Membiarkan hatiku selamanya seperti ini, tak merasakan apa-apa. Kalau boleh jujur sebenarnya aku masih ingin merasakan getaran yang sama saat bapakku melihat umi dan yakin kalau umi lah yang akan menjadi jodohnya. Dan merasakan hal yang sama seperti nenekku yang setia memilih untuk tetap hidup sendiri meskipun kakekku sudah menyerah untuk hidup setelah kehilangan anak kesayangannya sewaktu dia masih sangat muda. Tapi saat ini rasanya seperti ingin menyerah pada diriku sendiri, karena aku belum bisa merasa nyaman saat bersama seseorang selain mr. Q. Saat bercerita bisa merasa lega tanpa merasa khawatir. Ya Rabb, apa yang harus aku lakukan dengan rasa yang dia ciptakan untukku ini. Aku tahu, kita takkan pernah bisa bersama sampai kapan pun. Dia sudah punya kehidupan bahagianya sendiri, dan aku sama sekali tak ada niatan untuk mengusik itu. Aku pernah berjanji selalu bahagia juga untuk kebahagiannya. 

Banyak cowok yang silih berganti mengisi pikiranku, membuatku tersenyum sendiri, sedih dan kecewa juga. Tapi belum menemukan diriku seperti dulu. Merasakan nano-nano tapi tetap tenang karena ada Mr. Q disitu. Karena aku tahu ada bahu yang bisa aku pinjam saat aku merasa tak sanggup lagi menahan beratnya kapasitas otak dikepala dan beban hidup di pundakku. Aku jadi tersadar, bukan aku yang datang memberinya cerita baru dihidupnya. Tapi dia lah yang memberi cerita dalam hidupku. Menggoreskannya tanpa sadar dan lupa menghapusnya saat pergi.

Aku kangen perhatiannya yang terbungkus sikap cueknya. Seperti ada yang seseorang yang selalu mengawasimu. Aku rindu kesabarannya saat menemaniku bercerita sambil makan. Karena itu bisa membuat orang malu saking lamanya waktu yang aku butuhkan. Dan yang paling aku rindukan adalah saat dia ada disana untuk mendengarkan celotehan ku. Cinta pertamaku. Mungkin bisa dikatakan seperti itu meskipun dia gak akan pernah tahu atau menyadarinya. Saat ini pun saat aku menuliskannya disini aku yakin, dibenaknya tidak terbesit sedikit pun diriku.

  
 Sekarang yang terbesit dalam anganku, apakah aku akan menemukan cinta terakhir ku? Atau hanya akan menjalani sisa kehidupan seperti kebanyakan wanita yang tidak bisa mendapatkan “soulmate”nya, dengan menjalani hidup dengan seseorang karena status resmi dan halal demi kewajibannya sebagai istri dan ibu. Padahal di lubuk hatinya masih tersimpan satu nama yang terlanjur terukir dan takkan mungkin terhapuskan. Jujur, aku tak ingin seperti itu. Tapi kalau hidup menginginkan untukku menyerah. Apa boleh buat. Mungkin rasa yang dulu aku pernah rasakan tidak datang untuk kedua kalinya. Hanya once in lifetime seperti novelnya Danielle Steel

Bilakah hatiku akan memberiku tanda bahwa “dia” lah yang tercipta untukku. Untuk menemani langkah ku di sisa perjalanan hidup yang kita sendiri tak tahu jalurnya. Aku masih tetap menunggu tanpa batas…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *