KETELADANAN YANG TERPENDAM DARI SEJARAH PERJALANAN NABI IBRAHIM as.


Berangkat dari kebingungan saya akan nasib negeri ini, semakin hari semakin banyak dipertontonkan perilaku dan akhlaq yang tidak pantas untuk ditiru. Para pejabat banyak yang menjadi Koruptor. Beberapa anggota DPR yang merupakan wakil rakyat juga menjadi pelaku korupsi, terkadang mereka sering mempertontonkan perilaku- perilaku tidak terpuji lainnya dengan berkelahi di depan sidang, atau tidak hadir di dalam rapat-rapat penting dan lain sebagainya. Bahkan hakim yang seharusnya menegakkan keadilan juga berperan sebagai pelaku korupsi. Para artis yang seharusnya menjadi teladan buat para penggemarnya (Fans) malah menjadi pelaku Pornografi. Dan pernah terjadi di kota probolinggo di tahun 2013 seorang anak hanya karena tidak diberi uang Rp.10.000 dia hampir membunuh ayahnya.
Kalau begini, siapa yang akan kita jadikan teladan ???
Ada sebuah keluarga yang patut dijadikan teladan, dimana selama ini kita hanya meneladani pengorbanannya menyembelih putranya yang kemudian menjadi syariat agama kita dalam berkorban. Padahal banyak keteladanan yang beliau ajarkan kepada kita ( terpendam ).
Adalah Nabi Ibrahim dan ismail. Keagungan pribadi mereka membuat kita seharusnya mampu mengambil keteladanan dari beliau, Allah Ta’ala berfirman:
“Sungguh bagi kalian terdapat teladan yang baik dalam (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (al-Mumtahanah: 4)
Nama nabi Ibrahim diabadikan dalam al-Quran sebanyak 61 kali, ini melampaui nama nabi kita Nabi Muhammad Saw. yang hanya disebut 4 kali. Banyak orang sukses tapi tidak mampu melahirkan orang yang sukses pula. Nabi Ibrahim as.telah melahirkan orang-orang sukses , yaitu: nabi Ismail dan nabi Ishaq. Cucunya nabi Ya’qub, cicitnya nabi Yusuf. Bahkan nabi Muhammad Saw. keturunan Nabi Ibrahim as.
Sekarang pertanyaannya adalah, apa keteladanan yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya?
Pada suatu hari atas perintah Allah Nabi ibrohim mengajak anak istrinya melakukan perjalanan yang sangat jauh, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah padang pasir di jazirah Arab, kemudian tanpa sepatah katapun Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua disana. Sang istri, Siti Hajar berhusnoddon (berprasangka baik) bahwa suaminya meninggalkannya bukan karena kemauannya sendiri, tapi pasti karena perintah Allah SWT. Sebagai manusia dan bukan robot, Nabi Ibrahim merasa sedih dan hatinya hancur manakala harus meninggalkan istri dan anak yang sangat dicintainya. Namun karena perintah tersebut langsung dari Allah SWT, maka beliau harus melaksanakannya tanpa tahu maksud dari peritah tersebut. Merasa galau pasti, akan tetapi beliau selalu berhusnuddon (berprasangka baik) kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim sangat yakin bahwa Allah pasti selalu bersama istri dan anaknya
Ini mengajarkan kepada kita agar kita selalu berperasangka baik kepada Allah. Allah menjelaskan dalam hadits qudsinya :
“Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah saw.: Allah berfirman:“Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari." (Hadits riwayat Bukhari & Muslim).
Setelah Nabi Ibrahim as meninggalkan istri dan anaknya. Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu tersebut menuju ke bukit Shafa untuk mencari air disana dia tidak menemukan air, maka kemudian dia menuju ke bukit Marwa, bolak – balik Siti hajar antara bukit Shafa dan Marwa yang jaraknya 394,5 meter, sebanyak tujuh kali. Tapi Tak sedikitpun air dia temukan.
Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini
Siti hajar dalam mencari air memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki, dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena Kita diperintahkan bukan hanya melihat hasil tapi juga proses dan usaha yang kita keluarkan, Rasulullah SAW. bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yg giat bekerja.” (HR. Thabrani).
Rasulullah SAW juga bersabda,“Tidaklah sekali-kali seseorang itu makan makanan lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Daud AS itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari).
Bahkan Allah SWT berfirman:
“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah: 10)
Ketika Ismail bertambah besar, hati Ibrahim as tertambat kuat kepada putranya. beliau semakin mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim as dia lebih mencintai anaknya atau lebih mencintai ALLah Swt., hingga Allah Allah SWT. hendak mengujinya, dengan memerintahkan Nabi Ibrahim melalui mimpi agar menyembelih putranya Ismail, dikisahkan dalam AlQur’an surat Shaaffat ayat 102 :
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash Shaaffat: 102 )
Subhanallah seorang anak yang hendak disembelih dia bukan hanya bersedia tapi dia malah memerintahkan agar perintah itu segera dilaksanakan. Coba bayangkan jika anak itu adalah kita…pasti kejadiannya akan berbeda. Ketika nabi Ibrahim dan anaknya telah berserah diri kepada Allah, Ibrahim membawa putranya kesebuah tempat, ismail sudah mulai dibaringkan dan ketika Ibrahim sudah menghunuskan pedang untuk menyembelih leher nabi Ismail, Allah mengganti ismail dengan seekor domba.
Lihatlah kepasrahan dan pengorbanan Ismail dan ayahnya Ibrahim, mereka berlomba-lomba berkorban untuk mendapatkan cinta Allah. untuk mendapatkan kasih sayang Allah. Sadarkah kita, bahwa saat ini kita sedang di ajari oleh seorang anak dan ayah tentang makna pengorbanan kepada Allah dalam segala hal dalam kehidupan ini
Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang sholeh jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya, dan Siti hajar tidak akan menjadi seorang ibu yg sholehah jika tidak di didik oleh sang suami Nabi Ibrahim as. dalam al-Quran diceritakan:
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“. ( Al Baqoroh: 132 )
Dan dalam Al Qur’an surat Albaqoroh ayat: 133 diceritakan sebuah pertanyaan seorang ayah kepada anaknya :
“Apa yang akan kamu sembah sepeninggalku?” bukan “Apa yang akan kamu makan sesudahku?”.
Ayat itu membuktikan betapa besarnya perhatian Nabi Ibrahim as pada pendidikan anak- anaknya,. Sekarang kita miskin figur teladan sejati karena banyak orang yang pandai menyampaikan mauidloh Hasanah (Penceramah) tapi sedikit yang menjadi Uswatun Hasanah (Teladan yang Baik).
Disebutkan dalam Al-Quran bahwa nabi ibrohim senantiasa berdoa:
“Wahai Tuhanku karuniakanlah aku keturunan yg sholih” (As Shaaffat:100 )
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. ( Ibrahim: 35)
Doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as jauh sebelum beliau menikah atau sebelum mempunyai anak, beliau tak henti-hentinya meminta kepada Allah, agar dikaruniai anak yang sholeh. Dan beliau tidak pernah putus asa dalam berdoa, hingga baru pada usianya yang ke 86 tahun Allah memberikan karunia anak yang sholeh. Dan sekarang kita lihat mekkah menjadi kota “baldatun warobbun ghofur"
Suef Priyanto, S.PdI., lahir di Kota Probolinggo pada tanggal 15 Januari 1977. Ia menyelesaikan S1nya disebuah perguruan tinggi di kota Malang (Universitas Islam Malang). Saat ini ia aktif sebagai guru Agama di SMP Taman Dewasa (Pergurua Taman Siswa cabang Kota Probolinggo).
Selain sebagai penulis artikel dakwah dibuletin bulanan SMPN1 Kota Probolinggo dan juga aktif menulis dibulletin kajian keagama sebuah bulletin di lembaga LTNNU / Lembaga Talif wan Nasr Nahdlatul Ulama’ (Lembaga Penulisan dan Penerbitan Nahdlatul Ulama ), ia juga menjadi aktif sebagai Khotib pada setiap jumat di masjid As Syuhada’, Masjid Raudlatul Ulum dan masjid Al Madinah Kota Probolinggo.
Di masyarakat ia aktif di kegiatan-kegiatan organisasi sebagai sekretaris di MWC NU Kec. Kedopok Kota Probolinggo. Disamping itu ia juga sebagai sekretaris Takmir masjid Al madinah Kota Probolinggo.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz