Daily

write anything that happend in life


Bekasi, sabtu 15 maret 2014

  Hari sabtu ini tepat 30 hari lebih satu hari lebih tepatnya aku tinggal di rumah ini setelah aku membuat keputusan untuk kembali ke pinggiran kota jakarta. Dirumah salah satu sahabat lamaku, petho aku memanggilnya. Yaa.. Bisa dikatakan numpang juga sih. He he he. Tinggal bersama petho, istri dan satu anaknya plus pembantunya ada suka dan dukanya. Karena ini merupakan pengalaman pertama ku menumpang di rumah orang, makanya aku ingin membagikan suka dukanya.
  Kata lain yang negatif untuk hidup menumpang dirumah orang adalah benalu kali yaa…Pasti semua tahu tentang tanaman benalu kan, tanaman yang menumpang hidup diatas pohon inang nya dan menyerap sari makanan dari pohon inangnya tersebut. Tapi tidak se ekstrem perlakuan si benalu pada pohon inangnya, menumpang tnggal di rumah orang lain masih ada sedikit simbiosis mutualisme kok.Meskipun seringnya simbiosisnya tampak samar – samar ^_^. Ini beberapa hal yang menjadi pertimbangan kenapa seseorang memilih untuk menumpang dirumah teman, sahabat atau saudaranya meskipun dibilang seperti benalu:
Biaya hidup dapat di minimalisir, misalkan tidak mengeluarkan biaya untuk kontrakan atau kost rumah, biaya makan dan minum, listrik dan lainnya. Meskipun terkadang kita perlu untuk makan dengan uang kita sendiri.
Tidak kesulitan akan transportasi karena bisa menggunakan kendaraan pribadi orang yang di tumpanginya, jdi pengeluaran untuk transportasi juga bisa dikurangi.
Ada teman untuk bermain jika sudah suntuk ngotak – ngatik laptop dan mainan gadget atau kesendirian yang lainnya apabila ngontrak atau ngekost. Tapi apabila sudah punya kerja sebenarnya tidak terlalu berpengaruh juga karena kalau sudah kerja, kontrakan atau kosan hanya di gunakan sebagai tempat tidur atau istirahat setelah penat bekerja.
Bisa menggunakan fasilitas atau barang – barang yang dimiliki oleh orang yang di tumpanginya. Misalnya mesin cuci, printer dan lain – lain.

Menumpang di tempat orang atau saudara bukan berarti tanpa duka atau resikonya, berikut beberapa duka atau resiko yang harus di jalani apabila memilih untuk menjadi seperti benalu ;
=> Kebebasan terbatasi oleh tembok rasa sungkan kepada teman atau saudara yang di tumpangi, misalkan biasanya bangun tidurnya siang, mau gak mau harus mengikuti waktu bangun si pemilik rumah. Atau waktu pulang juga mengikuti jam malam teman atau saudara yang kita tumpangi. Memang ada beberapa kosan juga yang mengatur jam malam penghuninya juga sih. He he.
=> Terkadang ada pemilik rumah yang kepo dengan kita, misalkan ingin tahu kita ada urusan apa dan mau kemana atau yang lain.
=> Mau gak mau meluangkan waktu untuk membantu si empunya dengan pekerjaan rumah yang ada. Walaupun sebenarnya gak dibantu pun, pekerjaan rumah itu biasanya di kerjakan oleh pembantu.
=> Menjadi omongan ibu – ibu komplex apabila gak ada hubungan keluarga dengan orang yang tidak ditumpangi. Akan ada rasa gak nyaman setiap kali teman atau sahabat yang berbohong untuk melindungi kita.
Ada rasa gak enak kepada si empunya karena mereka sebenarnya juga punya kebutuhan finansial mereka, tapi ini malah nambah satu penumpang gratis.

Poin – poin diatas mungkin saja belum mewakili pendapat dari pengalaman semua orang yang pernah di bilang sebagai benalu. Yang jelas apabila keputusan kita untuk tetap tinggal menumpang di rumah teman, sahabat atau pun saudara, harus bisa sedikit cuek dengan perkataan orang lain di sekitar. Selama pohon inang merasa tidak keberatan si benalu untuk menempel di batang pohonnya, seharusnya itu gak akan jadi masalah buat orang lain. Tetap cool dan cuek dulu saja untuk sementara. Sabaar ya…*untuk dua2 nya* hahahaha


Keluarga kedua (2nd Family)

Sejujurnya aku tidak tahu pasti tentang apa arti keluarga menurut kamus bahasa indonesia. Yang jelas aku yakin semua orang tahu tentang hakekat atau makna keluarga bagi setiap kita insan manusia. Secara umum keluarga biasanya adalah sanak saudara yang mempunyai ikatan darah dengan kita misalnya ayah, ibu, kakak, adik, sepupu, paman […]